Maksud Toko Buku Memboikot, Apa Daya Amazon.com Terlalu Berotot

Maksud Toko Buku Memboikot, Apa Daya Amazon.com Terlalu Berotot
Oleh Salman Al-Faridi

Judul tulisan ini terinspirasi dari tulisan seorang editor senior Publishers Weekly, Sara Nelson. Sara mengangkat isu salah satu pengecer (retailer) buku, yang juga diamini banyak toko buku independen, di Amerika Serikat yang sudah gerah melihat sepak terjang para pengecer besar buku, utamanya Amazon. Memang, gerai toko buku online pertama yang didirikan Jeff Bezos ini pantas ditakuti. Bermula dari cita-cita menjadi penjual buku terbesar di dunia, Amazon kini hampir menjual apa pun secara maya mulai dari perkakas rumah tangga, onderdil mobil, sampai kebutuhan bayi.

Nah, bagaimana kisah di balik keinginan memboikot Amazon itu? Beginilah awal ceritanya. Usul boikot itu kali pertama dilancarkan oleh Carol Besse, Presiden GLIBA, asosiasi penjual buku independen di Great Lakes, serta pemilik kedua penerbit Carmichael. Dalam usulannya yang provokatif itu, Carol mengajak agar para pemilik toko berkampanye secara terang-terangan di depan toko-toko buku besar, khususnya Amazon, dan menjelaskan mengapa konsumen tidak seharusnya membeli buku dari Amazon. Yang lebih menarik lagi adalah bujukan agar para penulis sendiri mematikan link dari situs mereka ke Amazon. Apa pasal?

Alasan utamanya tetaplah mengamankan kepentingan bisnis GLIBA yang makin lama makin tergerus oleh Amazon. Publishers Weekly edisi November 2008 berturut-turut mengumumkan daftar toko-toko buku independen yang terpaksa gulung tikar. Sudah barang tentu ilustrasi GLIBA di tengah serbuan pengecer besar dan Amazon yang raksasa itu ibarat David melawan Goliath. Bedanya, GLIBA dibayangi kekalahan mencekam akibat skala ekonomi Amazon yang tak terkirakan besarnya.

Untuk melengkapi kekhawatiran ini, bahkan Barnes & Noble, perusahaan online kedua terbesar setelah Amazon, pun mengeluh. Salah satu indikasinya adalah, monopoli yang dilakukan Amazon terhadap salah satu buku bestseller yang baru bisa dijual oleh Barnes & Noble pada minggu ketiga. Di luar itu, masih ada laporan tentang keengganan Amazon menyertakan daftar buku-buku baru beberapa penerbit seandainya penerbit-penerbit itu tidak bersedia menyepakati ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Amazon.

Alasan-alasan inilah yang setidaknya menyebabkan Carol Besse bermuka masam. Jelas sudah dalam percaturan bisnis paling keras pun, susah bagi para pedagang buku independen ini bertahan. Akan tetapi, rupanya GLIBA punya andil terhadap mengerutnya laba yang mereka terima. Salah satu alasan yang paling sahih adalah juga keengganan para pengecer buku yang tergabung dalam asosiasi penjual independen ini untuk mendisplai buku-buku dari para penulis pemula, para penulis independen yang juga diterbitkan oleh penerbit independen, yang belum mendapat akses ke major label. Dengan preseden ini, upaya keras Carol membujuk penulis untuk tidak mengikutkan link Amazon ke situs penulis pun sia-sia belaka.

Bagaimana dengan Indonesia?
Masih rendahnya volume penjualan online di Indonesia mungkin sementara ini dapat mengamankan posisi pengecer buku dari Amazon. Selain itu, tidak semua konsumen memiliki alat transaksi memadai secara online. Bisnis buku di Indonesia masih dikendalikan dari displai-displai di toko buku dan konsumen melakukan transaksi secara tunai-antre di depan kasir.

Akan tetapi, kalau kita bandingkan dengan pengecer sekunder buku-buku di Indonesia, sudah tentu daya tawarnya tidak akan sekuat GLIBA. Pelbagai outlet kecil yang tersebar di sepanjang Kwitang di Jakarta, di kompleks Palasari di Bandung, atau di Shopping di Yogyakarta sebetulnya merupakan sebuah entitas bisnis yang saling terhubung meskipun tidak ada data pasti seberapa besar transaksi buku di titik-titik distribusi ini. Yang jelas, keunggulan pasar sekunder ini cuma satu, yaitu MURAH! Pembeli yang cerdik seringkali melihat buku baru di toko-toko tetapi kemudian pergi ke gerai-gerai pasar sekunder ini untuk benar-benar bertransaksi.

Keuntungan dari selisih rabat yang sangat besar tentu saja menguntungkan konsumen karena bisa memiliki buku idaman dengan harga jauh lebih miring. Akan tetapi, sayangnya, pada beberapa kasus, peredaran buku bajakan di tempat-tempat seperti ini juga sangat tinggi. Mungkin sekali konsumen tidak tahu bahwa buku-buku yang dibeli adalah bajakan. Akan tetapi, sekali lagi, tidak menutup kemungkinan bahwa konsumen pun tahu buku-buku yang dibelinya adalah bajakan cuma mereka menutup mata saja. “Toh yang penting bisa membeli lebih murah. Asli atau tidaknya, bukan urusan saya.” Begitu kira-kira yang bisa saya bayangkan kalau saya jadi konsumen yang membeli buku bajakan.

Letak persamaan dari isu Carol Besse dan situasi perbukuan di tanah air sebetulnya satu: industri buku di Indonesia juga memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pengecer Goliath semacam Gramedia atau patron lainnya seperti Gunung Agung dan Toga Mas. Dan, karena keterbatasan displai, sementara penerbit berjumlah ratusan, semua penerbit yang berminat bukunya didisplai tentulah harus mengikuti ketentuan-ketentuan si empunya displai. Hanya, bedanya, jika GLIBA mengeluh karena pasar yang mereka coba menangkan adalah pasar yang sama dengan Amazon, para pengecer buku kecil independen di pelosok Nusantara malah tumbuh karena buku mereka dipasarkan secara direct selling, entah dipanggul, dibawa berkeliling, dipasarkan dari masjid ke masjid, dan lain sebagainya.

Sebagai contoh, banyak kisah sukses penerbit kecil yang hampir tidak terjangkau radar media-media. Mereka ini biasanya menerbitkan buku kecil-kecil, tidak terlalu tebal, dengan harga di bawah sepuluh ribu rupiah tetapi tirasnya bisa sampai puluhan ribu eksemplar. Nasibnya bisa berbeda dengan buku sebuah penerbit terkenal dengan displai menawan, tetapi tidak pernah terjual di atas 1.000 eksemplar dalam setahun. Mungkin karena kesuksesan diam-diam ini pula pengecer buku informal di Indonesia merasa tidak perlu demo di depan Gramedia dan Toga Mas.[]

Sumber: http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=emagazine&year=2008&id=28&fid=294

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s