Menyikapi Euforia 3G

Jaman sekarang memang jaman 3G. Bukan jaman Gila-Gila-Gila (baca: serba gila) maksud saya,πŸ˜€ tapi akses internet broadband “supercepat” lewat jaringan 3G. Tidak percaya? Silakan buka koran, dan lihat iklan-iklan yang sering muncul di sana. Lihat juga poster atau selebaran yang banyak terpampang di jalanan, meski sekarang sudah agak jarang dan berkurang.

Iklan produk internet 3G cukup banyak peminatnya. Maklum, dengan harga yang relatif terjangkau, kita sudah bisa internetan dengan kecepatan yang “up to xxx”, sesuai paket yang diambil. Terbukti, banyak yang rela antre untuk mendaftar.

Komentar dari pelanggan sangat beragam. Ada yang puas, karena bisa menikmati kecepatan internet sesuai yang dipromosikan di iklan. Sebaliknya, banyak juga yang merasa tidak puas, lantaran janji produknya ternyata tidak semanis janji iklannya. Jadi, jangan heran bila satu dua bulan kemudian, semakin banyak pelanggan yang antre. Bukan untuk daftar ulang/mendaftar lagi, tapi kali ini justru untuk putus hubungan alias berhenti berlangganan. Argh…, ada-ada saja…

Menurut hemat saya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tidak terjebak ke dalam euforia 3G semacam ini. Pertama, perhatikan betul keterangan pada produk yang ditawarkan. Biasanya di sana sudah jelas dinyatakan bahwa kecepatan internet yang ditawarkan adalah “up to xxx” (baca: up to sekian). “Up to sekian” batas kecepatan maksimla, dan ini bisa ditafsirkan bermacam-macam: bisa “up to sekiaaan”, “up to sekiaaaaaannnn”, atau “up to sekiaaaaaaaaannnnnnn…”.

Ini kan ibarat spedometer. Meski di situ tertera angka 150 km/h misalnya, bukan berarti motor tsb bisa dipacu seenaknya sampai kecepatan 150 km/jam kan?! Yaa…, normalnya cuma 60an km/jam. Bisa sih bisa, tapi musti sambil njrojog (baca: melaju) di jalan menurun ha..ha..ha.πŸ˜€πŸ˜€

Kedua, akses sangat tergantung pada ketersediaan jaringan. Jika Anda tinggal di area yang masih dalam jangkauan sinyal 3G, maka bolehlah berharap bisa mencicipi internet pakai 3G. Apalagi kalau ternyata rumah Anda persis di samping BTS 3G, wah…, lebih seru lagi iniπŸ˜€ Nah, kalau di tempat Anda tidak dapat sinyal 3G, ya sudah diterima sajaπŸ™‚

Ketiga, kecepatan akses juga tergantung pada kepadatan traffic area tsb. Maksudnya, kalau banyak pelanggan lain di sekitar Anda, maka koneksinya agak lambat.

Keempat, pilih modem yang pas. Pas itu maksudnya, pas harganya, dan pas juga kualitasnya.πŸ™‚ Meski jenis dan harga modem hampir sama, tapi kemampuannya berbeda-beda. Ini bukan promosi lho, tapi berdasarkan pengalaman (juga pengalaman pengguna yang lain), modem Sierra (misalnya AirCard 881U) relatif lebih kuat menangkap sinyal, dibandingkan modem yang lain.

Kelima, kecepatan internet wireless biasanya tidak lebih cepat dibanding dengan koneksi internet yang berbasis kabel (misalnya ADSL). Ini juga bukan promosi lho. Saya kurang bisa menjelaskan secara teknis. Mungkin mas-mas teknisi di sini ada yang bisa menjelaskan secara gamblang. Btw ini juga bukan jaminan bahwa ADSL selalu cepat, sebab terkadang koneksi ADSL juga lambat kalau pas ada trouble.

Keenam, sebelum berlangganan dan membeli modem, sebaiknya pinjam modem dan kartu dari kerabat/teman. Ini untuk mencoba kualitas dan kecepatan internet di tempat Anda. Coba juga dengan kartu dan modem yang lain sebagai pembanding. Kalau ternyata cepat dan sesuai harapan, ya silakan beli sendiri dan berlangganan.

Terakhir, ini yang paling penting. Kalau kecepatan yang “up to sekian” itu ternyata tidak memuaskan, ya “up to you” saja. Terserah Anda. Ndak perlu kecewa. Lha namanya saja “up to”. Iya kan..??πŸ˜€

Ini cuma pendapat pribadi. Kalau ada pendapat lain, monggo silakan…

2 thoughts on “Menyikapi Euforia 3G

  1. hehehe..penutupnya apik.
    kali paket yg kusewa ini (32mb/s ternyata 10mb/s) up to tadi..Gapapa toh harga terjangkau 350rb/bln.
    utk akses internet pake hp di jerman sini muahal biyanget pool. lagian kayaknya di sini rada aneh org mainan hp (sms pa chat di) jln.

    • >> hehehe..penutupnya apik.

      ha..ha..ha.., makasih mas. thank youπŸ™‚

      Terima kasih atas ceritanya. Saya jadi ngerti bahwa ternyata, di negara yang dianggap maju pun, ada juga yang komplain soal layanan internet ini. semula saya pikir itu cuma ada di sini…

      kalau koneksi ADSL seharga Rp 350rb/bln itu, setahu saya itu setara dengan paket Load (up to 512 kbps, kuota 3GB, harga Rp 295rb blm PPn) di sini…

      >> lagian kayaknya di sini rada aneh org mainan hp (sms pa chat di) jln.

      wah, kalau ini memang aneh mas ha..ha..ha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s