Pakaian dan Jiwa

Dulu, sewaktu akan diwisuda, saya sempat mencoba sebuah hem putih lengan panjang, lengkap dengan dasi. Saat itu saya merasa aneh. Aneh, tidak seperti biasanya, yang sehari-hari cuma memakai kaos oblong. Serasa menjadi seorang direktur atau bos di kantor. Senang sekali.

Dulu saya juga pernah memakai pakaian doreng, lengkap dengan sepatu lars panjang dan senjata, layaknya seorang tentara. Waktu itu saya serasa menjadi tentara sungguhan. Beda sekali. Ada perasaan bangga. Saya merasa lebih gagah dari biasanya.

Dulu juga, di sebuah pertambangan, saya sering mengenakan seragam kerja tambang, baju khusus dengan scottliite, lengkap dengan sepatu safety. Saya merasakan sensasi lain. Senang dan bangga. Awalnya saya pikir perasaan itu muncul karena saya bekerja di sana, bukan karena seragam atau sepatu safety itu. Tapi ternyata tidak. Perasaan itu masih sama ketika saya kembali mengenakan sepatu safety, meski sudah tidak bekerja lagi di pertambangan.

Sekarang, saya lebih sering memakai kaos oblong di rumah. Ke mana-mana pakai sandal biasa, kadang yang jepit. Saya merasa biasa saja. Netral. Tidak ada perasaan bangga atau gagah. Betul-betul netral.

Ketika suatu saat, dalam sebuah acara, saya harus mengenakan pakaian resmi dan bersepatu, saya serasa menjadi orang lain. Saya serasa menjadi seorang pekerja/karyawan.

Saya bukan seorang psikolog atau psikiater. Saya cuma menganalisa berdasarkan pengalaman saja, dan ini bisa saja salah. Saya merasa ada benang merah antara pakaian dan jiwa. Maksud saya, pakaian yang kita pakai, mungkin bukan sekadar benda mati seperti yang kita kira, tapi punya jiwa yang bisa mempengaruhi si pemakainya. Kalau kita pakai pakaian ala direktur, kita tiba-tiba merasa jadi direktur. Demikian juga, kalau kita mengenakan pakaian ala tentara, meksi itu cuma di karnaval, kita serasa jadi tentara sungguhan. Boleh dicoba. Tidak perlu pakaian lengkap, tapi cukup sepatunya saja, atau pakaiannya saja.

Andai saja apa yang saya pikir ini memang benar, bisa jadi kerusuhan yang kerap terjadi saat penggusuran PKL, atau ulah oknum barisan keamanan sebuah partai yang cenderung arogan dan overacting, sedikit banyak dipengaruhi oleh kostum yang dikenakannya. Hmm, entahlah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s