"Do NOT Judge a Laptop by Its Cover"

Judul tulisan ini sebenarnya menyitir sebuah peribahasa asing yang aslinya berbunyi “do not judge a book by its cover”. Terjemahan bebasnya: jangan menilai laptop (hanya) dari kulit luarnya. Kulit luar yang saya maksud di sini tentu jangan diartikan secara mentah, sebab bisa bermakna luas.

Pertama, merek. Hampir sebagian orang memilih laptop karena pengaruh ‘sihir’ brand alias merek yang melekat pada laptop tersebut. Padahal merek A yang terkenal itu, misalnya, tidak selalu lebih baik dari merek B, meski dianggap kurang terkenal. Jangan sampai kita membeli laptop A demi menjaga gengsi, padahal seri tersebut sudah discontinue alias kadaluarsa alias sudah tidak diproduksi lagi alias barang lama alias barang pajangan pameran. Hasilnya, bukan kepuasan yang didapat, melainkan kekecewaan, lantaran laptop tersebut sering rusak.

Kedua, harga. Harga mahal tidak selalu jadi cermin jaminan kualitas suatu barang, apalagi laptop. Ada juga beberapa laptop dengan harga yang, meski menurut saya sedang-sedang saja, tapi relatif awet dan tahan lama. Tapi ini juga jangan lantas dijadikan sebagai pedoman. Prinsipnya, jangan mudah terkecoh dengan harga, baik mahal ataupun murah. Lebih jelasnya, jangan mudah terpengaruh dengan harga.

Lantas, apa yang dilihat saat membeli laptop, kalau bukan merek dan harga? Menurut saya, pertama, kebutuhan pekerjaan kita. Kedua, spesifikasi laptop tersebut. Kalau kita cuma butuh laptop buat alat ketik pengganti mesin ketik, rasanya eman/sayang sekali beli laptop dengan spesifikasi yang canggih dan harga supermahal. Kalau kita cuma butuh laptop buat chatting, atau FBan (Facebook), atau rutinitas internet yang ringan, beli netbook saja cukup. Tidak perlu yang mahal.

Kalau boleh cerita, laptop itu ibarat makanan. Dus, membeli laptop ibarat membeli makanan. Ini bukan soal mahal atau murah. Ketika kita lapar, makanan apapun akan terasa enak. Ketika kita kenyang, makanan seenak apapun terasa biasa, tidak kuasa lagi menggoda seperti sebelumnya. Demikian pula laptop. Kalau kita lihat laptop dipajang di pameran, semua terlihat cantik-cantik dan menggoda. Ketika belum punya laptop, semua brosur dan iklan tentang laptop kita kumpulkan. Setelah laptop terbeli, perasaan kita terhadap laptop mulai normal, tidak lagi menggebu seperti sebelumnya.

Ini cuma sharing pengalaman dan cerita. Bisa saja salah, atau tidak sesuai. Bagaimana pengalaman Anda soal laptop? Silakan berbagi di sini…

3 thoughts on “"Do NOT Judge a Laptop by Its Cover"

  1. Saya melihat ada aura kekecewaan di dieu.

    Memang mas eko, jangan lihat sesuatu dari kulitnya. Apalagi laptop, karena biasanya ada namanya badge engineering. Jadi sebenarnya produsen asli ato OEM nya sebenarnya bukan pemilik brand, tapi nanti dikasih tempelan brand milik dia. Ini adalah teknik outsourcing untuk mempermurah biaya produksi.
    Menurutku, kualitas laptop semuanya sama, soalnya komponen-komponennya dibuat oleh pabrikan yg sama. Pilih yg after sales service nya bagus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s