Penganggur Bergelar

Oleh: SATRYO SOEMANTRI BRODJONEGORO

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, penganggur yang sarjana telah mencapai lebih dari 600.000. Keadaan ini jauh lebih berbahaya daripada penganggur yang bukan sarjana karena dapat menimbulkan masalah sosial.

Berbagai upaya telah ditempuh guna mengatasi hal ini, tetapi tiap tahun angka pengangguran meningkat. Beberapa pihak lalu mencari kambing hitam penyebab pengangguran massal tersebut.

Tanggalkan gelar

Masyarakat kita sudah terbius dengan kehausan akan gelar. Setiap orang ingin mempunyai gelar sebanyak mungkin, ada yang melalui pendidikan, ada yang membeli gelar. Seolah seseorang menjadi tidak berharga jika tidak mempunyai gelar. Hanya masyarakat miskin yang tidak mempunyai gelar karena tidak mampu membayar pendidikan dan tidak mampu membeli gelar.

Perguruan tinggi menangkap gejala ini dengan menyediakan berbagai layanan untuk mendapatkan gelar, baik melalui pendidikan sebenarnya maupun seadanya, bahkan dengan menjual gelar. Perguruan tinggi membutuhkan uang, sedangkan masyarakat yang mampu akan rela membayar untuk mendapatkan gelar. Maka, terjadilah perpaduan yang menyesatkan.

Mudahnya memperoleh gelar membuat masyarakat berduyun- duyun ”lulus” dari perguruan tinggi dengan menyandang gelar tanpa dibarengi keahlian atau kompetensi. Ketika mencari peluang kerja, mereka tidak memenuhi syarat sehingga terjadilah penganggur bergelar. Seharusnya mereka segera menanggalkan gelarnya karena tidak bermanfaat sama sekali.

Penjenjangan

Perusahaan swasta dan industri menerapkan pola rekrutmen pegawai berdasarkan kemampuan/kompetensi, tidak semata- mata berdasarkan gelar. Para calon pegawai ketat diseleksi secara ketat melalui uji kemampuan/kompetensi disesuaikan jenis pekerjaan yang akan ditangani.

Adapun untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS), seleksi hanya dilakukan terhadap gelar yang dimiliki calon pegawai, tanpa ada uji kemampuan/kompetensi. Karena sebagian besar masyarakat masih amat ingin menjadi PNS, mereka semua memburu gelar dengan berbagai cara, termasuk dengan memalsukan ijazah.

Penjenjangan karier di PNS juga hanya memerhatikan masa kerja dan gelar. Bagi mereka yang sudah bergelar S-2 atau magister akan dapat dipromosi ke golongan lebih tinggi, bahkan bagi mereka yang sudah bergelar S-3 atau doktor dapat dipromosi ke golongan tertinggi. Badan Kepegawaian Negara dan Kantor Menneg PAN menganggap para penyandang gelar itu mempunyai kemampuan memadai. Padahal, kenyataannya mereka hanya memburu gelar melalui berbagai cara, termasuk cara tidak wajar, yaitu membeli gelar atau mengikuti kelas jauh, kelas eksekutif, kelas Sabtu-Minggu, kelas paralel, kelas ekstensi, dan berbagai macam nama lain.

Lengkap sudah kekalutan yang ada di Indonesia ini tentang gelar. Masyarakat amat terbius dengan gelar, pendidikan hanya sebatas formalitas untuk memberi gelar para ”lulusan” dan sistem kepegawaian kita terjebak gelar.

Berikan contoh

Bagaimana mengatasi hal ini? Mudah sekali. Mulai hari ini kita semua menanggalkan semua gelar yang tercantum di kartu nama, papan nama, foto, surat menyurat, undangan, panggilan pada acara resmi, dan lainnya.

Mulai hari ini kita semua hanya menggunakan nama masing- masing yang sudah diberikan oleh orangtua sebagai suatu amanah. Nama sudah amat membanggakan seandainya kita memiliki keahlian, sedangkan gelar sama sekali tidak memberi nilai tambah terhadap keahlian. Jika semua orang tidak menggunakan gelar, termasuk para pemimpin, masyarakat akan menjadi lebih realistis dan tidak lagi terbius oleh gelar.

Mudah-mudahan, setelah itu mereka semua mencari keahlian dan perguruan tinggi akan memberi keahlian kepada lulusan, dan akhirnya penganggur bergelar akan berubah menjadi pekerja ataupun pemberdaya yang andal.

SATRYO SOEMANTRI BRODJONEGORO, Guru Besar Toyohashi University of Technology; Mantan Dirjen Dikti

Sumber: Kompas (24 Sept 2009)

11 thoughts on “Penganggur Bergelar

  1. ga masuk akal… untuk bisa lulus kuliah saja harus melewati serangkaian ujian sidang yang sulit, lalu mengapa dibilang lulusan Sarjana tidak memiliki kemampuan tersendiri… memang betul gelar adalah sebuah motivasi yang harus dibanggakan karena ilmu pengetahuan itu sangat mahal sekali harganya, dan saya sangat tidak setuju dengan pendapat anda karena kata-kata diatas akan menurunkan semangat generasi muda untuk bersekolah… bukankah perusahaan atau industri yang menolak calon tenaga kerja Sarjana adalah calon yang tidak bisa menyogok atau tidak satu kepercayaan…

    • @ Zechreich:

      Waduh.., kok jd saya yg dikomplain ha..ha..ha..😀 Kalau tidak masuk akal, ya jangan dipaksa mas🙂 Jadi…, ya santai saja..😀

      Oya, ada beberapa hal yang perlu saya luruskan: Pertama, ini bukan tulisan saya. Nama penulisnya sudah saya tulis besar-besar dengan huruf kapital di bagian paling atas.

      Kedua, menurut hemat saya, masing-masing penulis punya sudut pandang yang berbeda. Demikian pula dengan pembacanya. Jadi peluang kesalahpahaman sangat terbuka lebar.

      Ketiga, sejauh yang saya pahami, inti tulisan tsb adalah soal kegandrungan sebagian masyarakat atas gelar sebagai label belaka, demi mengejar pangkat, golongan, atau gengsi semata (lihat lagi alinea ke-3). Bukankah sebuah gelar seharusnya mencerminkan tingkat kemampuan, keahlian, kompetensi seseorang yg menyandangnya di bidang tsb, bukan sekadar “gelar-gelaran” atau gelar kosongan???

      Dalam dunia kerja, menurut hemat saya, yang bekerja sesungguhnya bukanlah gelar, melainkan skill/kemampuan orangnya. gelar hanyalah label yang menerangkan kemampuan/skill/komptensi orang yang mengenakan gelar tsb. seorang ahli sejati sebenarnya tidak butuh gelar, sebab keahlian/komptensi yg sebenarnya justru akan terlihat ketika bekerja. Jadi, bukan kita (seharusnya) yang mengakuinya dengan menempel sederet gelar (apalagi kalau didapat dengan jalan pintas), melainkan masyarakat. jadi, kalau memang seseorang benar2 kompeten dengan bidang dan gelar yang disandang, kenapa musti risau dengan tulisan semacam ini???😀

      Itu menurut pendapat saya lho sbg seorang awam🙂 bukankah orang awam juga berhak memberikan pendapatnya? kalau salah ya monggo dikoreksi. gitu saja kok repot😀😀

      btw. topik ini sptnya menarik. silakan beri pendapat Anda jika berkenan. terima kasih.

  2. Saya minta maaf atas postingan sebelumnya yang kasar…

    tapi menurut saya negara kita mutu pendidikannya sudah mulai membaik, pemerintah juga sudah membuat pengawasan mutu untuk hasil kelulusan… jadi siswa/mahasiswa memang harus benar2 kompetensi untuk bisa benar2 lulus, bila belum layak maka pasti tidak akan diluluskan… dan setiap tahun tingkat kualitas semakin tinggi.

    Untuk calon pekerja perusahaan/industri, calon pekerja pasti ditolak bila tidak bisa melewati serangkaian tes untuk kelayakan sebagai pekerja, dan apa yang akan diuji dalam tes pastinya ditujukan untuk calon yang memang khusus dibidangnya…

    Bila ada kecurangan seperti jual/beli Ijazah itu melanggar hukum, dan pelanggaran hukum harus ditindak… sehingga sekolah atau Universitas akan berpikir 2 kali untuk mau mengadakan penjualan Ijazah…

    Masalahnya sebenarnya pemerintah masih kurang mampu, negara ini memiliki banyak sekali orang2 berpendidikan, tetapi perusahaan/industri tidak sanggup membayar upah mahal untuk lulusan Sarjana yang berkualitas… ini wajar saja karena untuk bisa memperoleh gelar Sarjana harus berjuang, bersabar dan mengeluarkan biaya yang besar… maka ini penyebabnya mengapa penggangguran bergelar semakin banyak dibandingkan pengangguran tanpa gelar…

    Siapa tahu, suatu saat nanti Tuhan berkenan memberikan rejeki kepada pemerintah Indonesia sehingga mampu menyediakan lapangan pekerjaan dan membuat negeri ini makmur seperti di negara maju lainnya…

    Dan bagi pengangguran bergelar tidak usah kuatir, bila tidak menemukan suatu pekerjaan di perusahaan/industri, coba cari saja pekerjaan diluar negeri… di beberapa negara lain seperti Singapura atau dubai membuka lowongan pekerjaan asal Indonesia yang mengakui gelar Sarjana dari pendidikan Indonesia…

    sekali lagi mohon maaf bila postingan saya sebelumnya menyinggung penulis sebelumnya…

    terima kasih…

    • @ Zechreich:

      Tidak apa2 mas🙂 Masalahnya memang, dari awal mereka sekolah/masuk kuliah, mindset yang terbangun adalah (nanti setelah lulus) bekerja di kantoran/perusahaan. Mereka tidak dibekali dengan skill/kemampuan dan ketrampilan berwirausaha. Kalaupun ada, itu pun baru2 saja digalakkan. Padahal Anda tahu, perbandingan jumlah lulusan tiap tahun tidak seimbang dengan jumlah lowongan pekerjaan. Juga, tidak semua yang bergelar selalu beruntung. Maka, ketika benar2 tidak beruntung bisa bekerja di kantoran, mereka bingung mau apa…

      Saya sebut “beruntung”, sebab memang tidak semua yang bergelar pasti bisa bekerja di kantoran sesuai yang diharapkan. Terkadang ada faktor lain yang ikut bermain di sana, misalnya koneksi/kenalan/KKN.

      Jadi menurut hemat saya, yang perlu ditanamkan adalah, PERTAMA, kesadaran bahwa sekolah itu (sejatinya) untuk menimba ilmu/mengasah kemampuan/skill, bukan (semata) mengejar gelar. Bukan malah dibalik. Sebab kalau dibalik, ya tumpah ha..ha. Kacau. Maka jangan heran kalau dulu sempat geger ribut2 soal gelar/ijasah palsu di koran/tv.😀

      KEDUA, kesadaran bahwa bekerja tidak harus di kantor/perusahaan. Yang terakhir ini, menurut saya, perlu digarisbawahi, sebab orang sering stres, depresi, dan bahkan merasa merasa tidak punya harga diri jika tidak punya pekerjaan tetap (di kantoran). Padahal sebenarnya ada banyak pekerjaan lain di luar sana, selain kerja kantoran, yang tidak memadang berapa panjang gelar yang disandang seseorang. Apalagi, di jaman internet seperti sekarang ini, peluang semakin terbuka lebar. Jadi, sekali lagi, yang dibutuhkan (sebenarnya) adalah skill/ketrampilan/keahlian, bukan (semata) gelar.

      Sekadar gambaran, cobalah mampir ke http://www.odesk.com. lihat jg videonya di http://www.youtube.com/watch?v=xbjkIE_CQI8. Saya kurang tahu apakah ada model spt ini utk bidang pekerjaan yg lain…

      Ah tapi sudahlah. Saya cuma orang awam. Untuk pembaca lain yang ingin kasih komentar, monggo2 silakan…

    • @ Zechreich:

      Sama mas, sy juga lupa ha..ha..😀 Btw. nama “Zechreich” sptnya agak kebarat-baratan, spt bahasa Jerman? Apakah tinggal/bekerja/sekolah di sana?

  3. halo mas/pak (e..eh.., pak ato mas ya ha..ha..), salam kenal..
    ulasan yg bagus. ya semua berpulang pada pribadi masing2, jd santai saja…

  4. Pingback: Mengapa Banyak Sarjana yang Menganggur? « catatan harian penulis lepas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s