Mengapa Banyak Sarjana Menganggur?

Ya, mengapa banyak sarjana yang menganggur? Saya suka sekali dengan pertanyaan itu. Itulah sebab saya, beberapa waktu lalu, sering menulis tema seperti ini, misalnya Penggangguran Bergelar, Belajar dari Tayangan Hipnotis, Ngobrol Bursa Kerja ala oDesk, atau Ini punyaku, Mana Punyamu?.

Pagi ini saya menemukan sebuah tulisan menarik yang sekaligus menjawab pertanyaan di atas. Berikut ini petikannya:

Mengapa banyak sarjana yang menganggur? Apakah karena secara ideologi dunia pendidikan sudah menjadi agen kapitalis atau menganut faham neoliberalisme? Apakah karena kurangnya sarana dan prasarana pendidikan yang sekarang ini banyak dikeluhkan? Apakah karena sistem (politik) pendidikan yang tidak benar? Ataukah karena sistem belajar mengajar yang tidak beres? Jawaban dari semua pertanyaan tersebut adalah mungkin. Tetapi yang pasti mereka tidak memiliki keterampilan yang memadai, tidak menguasai bidang yang digelutinya, tidak memiliki wawasan yang luas, tidak mampu membaca peluang apalagi menciptakan pekerjaan. Pendek kata mereka semua tidak memiliki ilmu pengetahuan yang memadai pada saat menamatkan pendidikannya.

Sumber: Masyarakat Literasi Indonesia.

Saya sangat setuju dan sependapat dengan tulisan tsb. Sayang sekali, pada tulisan-tulisan saya di atas, saya kurang bisa menjelaskan atau mengungkapkannya secara jelas dan gamblang seperti tulisan pak Suherman ini. Kutipan di atas merupakan bagian dari tulisan “Tidak Mungkin Intelektual Menganggur” yang juga tidak kalah menarik untuk disimak. Silakan baca sendiri di sini .

4 thoughts on “Mengapa Banyak Sarjana Menganggur?

    • @doedoe:

      iya betul. seperti yang sudah berulang kali saya tulis di sini. intinya, yang kerja bukan ijasah atau gelar, tapi skill/kemampuan/ketrampilan diri. dus, yang dikejar mustinya adalah kemampuan/keahlian, bukan gelar/ijasah.

      btw. terima kasih sudah sudi mampir kemari dan memberikan pendapatnya…🙂

    • sebenarnya skrg program kewirausahaan sdh mulai masuk ke kampus2. cm menurut saya, kesannya agak dipaksakan. mudah2an mereka benar2 belajar berbisnis, bisnis yang sejati; bukan belajar “tentang” berbisnis…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s