Robot

Robot

Robot


Dulu, saya pernah mengalami masa menjadi seorang layaknya orang pada umumnya: menjadi karyawan. Berangkat pagi, pulang sore; Senin sampai Sabtu. Semuanya terasa normal saja waktu itu. Yang terasa aneh justru waktu saudara saya yang—(maaf) kebetulan waktu itu seorang pengangguran—mengolok-olok saya. Ia bilang saya aneh, pergi pagi pulang petang, bekerja untuk orang lain, dan sebagainya. Saya tidak mengerti kenapa ia bilang saya aneh. Yang saya rasakan, semuanya normal saja. Bukankah menjadi karyawan adalah hal yang normal dan wajar?

Sekarang lain ceritanya. Keadaan saya berubah 180 derajat. Saya bukan lagi karyawan, melainkan (maaf) pengangguran. Ironisnya, orang-orang di sekeliling saya tidak percaya kalau saya mengaku-ngaku sebagai pengangguran. Mungkin tampang saya tidak cocok jadi seorang pengangguran. Mungkin juga, definisi kata pengangguran menurut saya, berbeda dengan mereka. Entahlah! Tapi yang jelas, saya memang seorang pengangguran. Saya bukan lagi karyawan.

Dengan kondisi sekarang, saya jadi bisa memandang apa yang dulu dianggap aneh orang lain, dengan perspektif dan kacamata yang berbeda. Saya—sebagai orang yang pernah jadi karyawan dan sekarang mantan karyawan—jadi bisa merasakan bahwa, ternyata dulu saya tidak lebih dari sebuah robot. Robot yang bekerja pada, ehmm…, pada…, ya.., bosnya robot, hehehe. Yang lebih menyedihkan, saya baru menyadari bahwa, dengan menjadi karyawan, hampir seluruh waktu (dan hidup saya) tersita oleh pekerjaan kantor.

Bayangkan saja, setiap hari (kecuali hari Minggu dan libur), saya musti hidup di kantor, dari pagi sampai sore. Kalau selamanya saya jadi karyawan sampai pensiun, itu artinya hampir seluruh hidup saya ‘tersandera’. Itu artinya, saya tidak benar-benar memiliki hidup saya. Artinya lagi, saya tidak benar-benar bisa menikmati hidup saya sendiri.

Menjadi karyawan memang sebuah pilihan personal. Apa yang saya rasakan dan tulis di sini, belum tentu sesuai dengan kondisi dan pengalaman Anda. Semuanya berbeda, karena saya dan Anda memang berbeda. Beda personal, sifat, kepribadian, lingkungan, waktu, kondisi, keperluan, dan sebagainya. Dan, soal enak atau tidak enak menjadi karyawan, tentu menjadi sangat subjektif. Ada yang senang menjadi karyawan, ada juga yang tidak betah dengan pola kerja dan hidup karyawan.

Tulisan ini tidak bermaksud merendahkan orang-orang yang kebetulan kurang beruntung tidak menjadi karyawan, atau sebaliknya. Ini cuma buah pikiran yang muncul tiba-tiba. Pengalaman Anda, tentu berbeda dengan saya. Jadi, bagaimana komentar Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s